Saat digaji di bawah aturan atau diancam soal visa, kalimat yang paling sering mematahkan semangat adalah: “percuma lapor, tidak akan ada yang percaya.” Halaman ini ada untuk membantah kalimat itu dengan bukti. Semua kasus bernama di sini sudah diputus — ada putusan pengadilan atau sanksi resmi yang bisa dicek siapa pun.
Tiga aturan membacanya:
- Yang diputus vs yang dituduhkan. Halaman ini hanya menamai perkara yang sudah selesai di pengadilan. Perkara yang masih berjalan dijelaskan tanpa nama, karena tuduhan bukan putusan.
- Pola, bukan kebangsaan. Banyak kasus melibatkan bos dan pekerja dari komunitas yang sama — itu fakta tentang cara perekrutan dan isolasi bekerja, bukan tentang watak komunitas mana pun.
- Kerja seks bukan perdagangan orang. Kasus pidana di bawah dihukum karena perbudakan, penghambaan, dan jeratan utang — karena paksaan, bukan karena jenis pekerjaannya.
Yang dibuktikan kasus-kasus upah
- Sushi Bay (Federal Court, 2024) — denda AUD 15,3 juta, terbesar dalam sejarah penegakan Fair Work. Jaringan restoran ini menggaji rendah 163 pekerja — kebanyakan pemegang visa pelajar, WHV, dan 457 — memalsukan catatan, dan memaksa skema cashback. Pemiliknya didenda pribadi AUD 1,6 juta. Hakim menyebut perbuatannya “calculated and audacious”.
- Mr Viet (Adelaide, 2025) — total sekitar AUD 802.000. Pemilik restoran diperintahkan membayar kembali AUD 407.546 kepada 36 pekerja, kebanyakan pelajar internasional muda. Pekerja bahkan dipaksa membelikan makanan dan minuman untuk bos lewat sistem “papan strike”.
- Hero Sushi (2020) — denda AUD 891.000 atas 94 pekerja yang digaji serendah AUD 12 per jam dengan sebelas kali catatan palsu. Kata hakim: “Ini kasus tentang keserakahan dan eksploitasi terhadap yang rentan.”
- 85 Degrees, Hanaichi, China Bar, Fu Kang, House of Polish — daftar panjang denda atas pola yang sama: flat rate di bawah award, tanpa payslip, potongan tak jelas, magang pura-pura, dan catatan palsu.
- Skandal 7-Eleven (2015–16) memaksa program pengembalian upah sekitar AUD 151 juta kepada lebih dari 3.600 pekerja — pengembalian upah terbesar dalam sejarah Australia.
Polanya persis dengan checklist penipuan di situs ini: gaji flat di bawah aturan, tanpa payslip, cash only, potongan misterius, dan ancaman visa untuk membungkam. Dan hasilnya nyata: uang kembali, perusahaan didenda, nama mereka tercatat permanen.
Yang dibuktikan kasus-kasus pidana
Pengadilan Australia telah menjatuhkan vonis perbudakan dan penghambaan: perempuan-perempuan yang dibebani “utang” puluhan ribu dolar yang harus “dilunasi” dengan kerja, paspor ditahan, gerak dibatasi — termasuk kasus pertama di mana penghambaan terjadi di kantor, bukan industri seks: pekerja dipaksa menelepon penipuan 15 jam sehari tanpa gaji. Hukumannya penjara bertahun-tahun.
Tiga dari kasus besar itu terbongkar karena satu orang menghubungi satu pihak: seorang pelanggan, sebuah kedutaan, seorang pekerja. Itu alasan situs ini ada dalam tujuh bahasa.
Bagaimana dengan kasus pekerja Indonesia?
Jujur saja: kasus yang diputus pengadilan dengan korban pekerja Indonesia secara khusus masih sedikit. Itu bukan berarti masalahnya tidak ada — risetnya menunjukkan hambatan melapor (bahasa, takut visa, malu) yang membuat kasus tidak sampai ke pengadilan. Ada perkara perdagangan orang dengan kaitan Indonesia yang sedang berjalan di pengadilan; halaman ini tidak menamai pihak dalam perkara yang belum diputus.
Justru karena itu pesannya penting: catatan Anda adalah kasusnya. Payslip, transfer bank, chat, foto roster, dan jam kerja yang Anda catat sendiri — itulah yang membuat kasus-kasus di atas menang.
Artinya untuk Anda
- Bos yang bilang “tidak ada yang peduli pekerja migran” berbohong — denda belasan juta dolar membuktikan sebaliknya.
- Gaji kurang bisa kembali. Mulai dari hak kerja dan gaji dan Fair Work.
- Kalau ada utang yang “harus dilunasi dengan kerja”, paspor ditahan, atau gerak dibatasi, itu ranah pidana — lihat bantuan resmi.
Halaman ini informasi umum, bukan nasihat hukum. Angka diambil dari putusan akhir dan rilis resmi regulator.